Perangkat keamanan jaringan seperti firewall dan VPN seharusnya melindungi perusahaan dari serangan hacker. Namun ironisnya, saat ini perangkat tersebut justru menjadi pintu masuk favorit para penjahat siber.
Hal inilah yang sedang terjadi pada produk Fortinet, salah satu vendor keamanan jaringan terbesar di dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, muncul banyak celah keamanan serius pada perangkat FortiGate yang dimanfaatkan hacker untuk membobol jaringan perusahaan.
Artikel ini akan menjelaskan kasus tersebut dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh pemula.
Apa yang Terjadi pada Fortinet?
Pada Januari 2026, Fortinet merilis patch keamanan untuk memperbaiki celah berbahaya bernama CVE-2025-59718.
Awalnya banyak orang mengira masalah sudah selesai.
Namun ternyata tidak.
Beberapa administrator jaringan melaporkan bahwa:
-
Sistem yang sudah dipatch masih tetap bisa diretas
-
Hacker masih berhasil masuk ke perangkat FortiGate
-
Patch yang dirilis ternyata belum memperbaiki masalah sepenuhnya
Dua hari kemudian, Fortinet akhirnya mengonfirmasi bahwa patch tersebut memang gagal menutup celah secara total.
Sebagai langkah darurat, Fortinet meminta pengguna untuk:
-
Membatasi akses administrator
-
Menonaktifkan FortiCloud SSO
-
Menunggu patch baru yang lebih aman
Apa Itu CVE?
CVE adalah kode identifikasi untuk celah keamanan komputer.
Contohnya:
-
CVE-2025-59718
-
CVE-2026-24858
-
CVE-2020-12812
Setiap kode menunjukkan kerentanan tertentu yang bisa dimanfaatkan hacker.
Celah Lama yang Bangkit Lagi
Yang mengejutkan, salah satu celah yang dipakai hacker sebenarnya sudah berusia 5 tahun.
Celah itu bernama:
CVE-2020-12812
Bug ini memungkinkan hacker melewati sistem autentikasi dua faktor (2FA) hanya dengan mengubah huruf besar dan kecil pada username.
Contoh:
-
Username asli:
jsmith -
Hacker login menggunakan:
JSmith
Karena sistem LDAP tidak membedakan huruf besar dan kecil, firewall bisa salah mengenali pengguna dan melewati verifikasi 2FA.
Akibatnya:
-
Hacker bisa login tanpa kode OTP
-
Sistem keamanan dua lapis menjadi tidak berguna
Siapa yang Memanfaatkan Celah Ini?
Menurut laporan keamanan:
-
Grup hacker China
-
Hacker Iran
-
Intelijen Rusia
-
Geng ransomware seperti Conti dan REvil
semuanya pernah memanfaatkan celah ini.
Bahkan lembaga keamanan Amerika, CISA, sudah memasukkan bug tersebut ke daftar kerentanan yang aktif dipakai hacker sejak tahun 2021.
Ribuan Firewall Masih Rentan
Yang lebih mengkhawatirkan:
-
Lebih dari 10.000 firewall Fortinet masih rentan
-
Sekitar 1.300 berada di Amerika Serikat
Padahal patch sudah tersedia sejak bertahun-tahun lalu.
Ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan:
-
Telat update
-
Tidak sadar perangkatnya rentan
-
Tidak memonitor firewall dengan baik
Kenapa Hacker Suka Menyerang Firewall?
Firewall dan VPN sekarang menjadi target utama hacker karena beberapa alasan.
1. Sulit Dimonitor
Berbeda dengan laptop atau server:
-
Firewall biasanya tidak punya antivirus
-
Tidak bisa dipasang EDR
-
Sulit dipantau aktivitas internalnya
Artinya hacker bisa bersembunyi lebih lama.
2. Posisi Sangat Strategis
Firewall berada di antara:
-
Internet
-
Jaringan internal perusahaan
Jika hacker menguasai firewall:
-
Mereka bisa melihat lalu lintas data
-
Menyadap komunikasi
-
Mengontrol akses jaringan
Ibaratnya seperti menguasai gerbang utama sebuah gedung.
3. Banyak Menggunakan Sistem Lama
Meski terlihat modern, banyak perangkat jaringan sebenarnya memakai:
-
Linux
-
BSD
-
ARM processor
-
x86 processor
yang dimodifikasi khusus.
Jika sistem dasar ini memiliki bug, hacker bisa masuk lebih mudah.
4. Firmware Sulit Dicek
Serangan modern sekarang tidak hanya menyerang software biasa, tetapi juga firmware.
Firmware adalah sistem dasar yang menjalankan perangkat.
Jika firmware sudah disusupi:
-
Serangan bisa bertahan meski perangkat direstart
-
Tetap aktif setelah patch
-
Bahkan bertahan setelah instal ulang sistem
Ancaman Network Edge Semakin Besar
Laporan keamanan Verizon tahun 2025 menunjukkan:
-
Serangan terhadap perangkat jaringan naik 8 kali lipat
-
VPN dan firewall menjadi target utama
-
Banyak perangkat diretas pada hari pertama bug diumumkan
Sementara perusahaan rata-rata membutuhkan:
-
30 hari atau lebih untuk memasang patch
Artinya hacker sering bergerak lebih cepat daripada tim IT.
Kenapa Patch Sering Gagal?
Perangkat jaringan modern semakin kompleks.
Peneliti menemukan:
-
Ukuran update firmware meningkat 100 kali lipat sejak 2020
-
Banyak library tambahan
-
Ratusan modul Python baru
Semakin kompleks sebuah sistem:
-
Semakin besar kemungkinan bug
-
Semakin sulit memperbaikinya
Inilah alasan kenapa patch kadang tidak menyelesaikan masalah sepenuhnya.
Solusi yang Disarankan
Para ahli keamanan menyarankan beberapa langkah penting.
1. Jangan Percaya Vendor Sepenuhnya
Perusahaan tetap harus:
-
Memeriksa perangkat sendiri
-
Melakukan monitoring independen
-
Tidak hanya mengandalkan patch vendor
2. Update Firmware Secara Rutin
Patch tetap penting meski kadang tidak sempurna.
3. Jangan Membuka Akses Admin ke Internet
Akses administrator sebaiknya:
-
Hanya dari jaringan internal
-
Menggunakan VPN aman
-
Dilindungi MFA
4. Pantau Firmware dan Konfigurasi
Perusahaan perlu:
-
Memeriksa perubahan aneh
-
Memantau integritas firmware
-
Mengecek konfigurasi mencurigakan
Peran Eclypsium
Perusahaan keamanan Eclypsium membantu mendeteksi ancaman firmware dan perangkat jaringan.
Mereka dapat:
-
Mendeteksi perangkat rentan
-
Memeriksa firmware yang dimodifikasi
-
Menemukan backdoor tersembunyi
-
Memantau perubahan konfigurasi
Hal ini penting karena banyak serangan modern beroperasi di level firmware yang tidak terlihat oleh antivirus biasa.
Kesimpulan
Kasus Fortinet menunjukkan bahwa perangkat keamanan jaringan kini menjadi sasaran utama hacker modern.
Firewall dan VPN yang seharusnya melindungi perusahaan justru bisa berubah menjadi titik masuk serangan jika:
-
Tidak diupdate
-
Salah konfigurasi
-
Tidak dimonitor dengan baik
Ancaman saat ini bukan hanya malware biasa, tetapi juga serangan firmware dan eksploitasi perangkat jaringan yang sulit terdeteksi.
Karena itu, perusahaan harus mulai memperlakukan perangkat jaringan seperti server penting:
-
Dipantau terus-menerus
-
Diverifikasi keamanannya
-
Tidak dipercaya begitu saja
Di era serangan siber modern, menjaga keamanan “gerbang jaringan” sama pentingnya dengan menjaga data di dalamnya.
eclypsium Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi eclypsium.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
