Banyak perusahaan percaya bahwa firewall adalah benteng utama keamanan jaringan. Firewall dipasang di “gerbang” jaringan untuk menyaring lalu lintas data, memblokir serangan, dan menjaga hacker tetap di luar sistem perusahaan.
Karena itulah perusahaan rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli perangkat firewall dari vendor terkenal seperti Cisco, Fortinet, Palo Alto, atau Sophos.
Namun kenyataannya sekarang mulai berubah. Firewall yang dulu dianggap pelindung utama justru semakin sering menjadi target serangan hacker.
Laporan Verizon Data Breach Investigation Report 2025 menunjukkan fakta mengejutkan: serangan terhadap perangkat jaringan seperti firewall dan VPN meningkat hingga 8 kali lipat hanya dalam satu tahun.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, rata-rata waktu hacker mulai mengeksploitasi celah keamanan firewall adalah 0 hari setelah celah diumumkan. Artinya, begitu kerentanan dipublikasikan, hacker langsung menyerang.
Sementara itu, rata-rata perusahaan baru memasang patch atau update keamanan sekitar 30 hari kemudian.
Perbedaan waktu inilah yang membuat hacker sering lebih unggul dibanding tim keamanan perusahaan.
Kenapa Firewall Menjadi Target Utama?
Dulu firewall hanya memiliki tugas sederhana:
-
Memeriksa paket data
-
Memblokir koneksi berbahaya
-
Mengatur akses jaringan
Karena fiturnya terbatas, risiko keamanannya juga relatif kecil.
Namun seiring perkembangan teknologi, firewall modern kini memiliki banyak fitur tambahan seperti:
-
VPN
-
Remote access
-
Single Sign-On (SSO)
-
Web filtering
-
SSL inspection
-
Cloud integration
Agar fitur-fitur tersebut bekerja, firewall harus langsung terhubung ke internet.
Inilah yang membuat firewall menjadi target menarik bagi hacker. Mereka tahu perangkat ini berada di garis depan jaringan perusahaan dan memiliki akses penting ke sistem internal.
Masalah Besarnya Ada di “Lapisan Tersembunyi”
Sebagian besar firewall modern sebenarnya berjalan di atas sistem operasi Linux.
Contohnya:
-
Fortinet menggunakan FortiOS di atas Linux
-
Palo Alto menggunakan PAN-OS di atas Linux
-
Cisco IOS-XE juga berjalan di atas kernel Linux
Administrator biasanya hanya melihat tampilan dashboard atau menu konfigurasi dari vendor. Namun di balik layar, terdapat sistem Linux yang menjalankan layanan penting seperti VPN dan autentikasi pengguna.
Masalahnya, perusahaan tidak diberi akses penuh ke lapisan Linux tersebut.
Akibatnya:
-
Tim IT tidak bisa melihat semua aktivitas sistem
-
Sulit mendeteksi malware tersembunyi
-
Monitoring menjadi sangat terbatas
Sementara hacker yang berhasil masuk bisa mendapatkan akses penuh ke sistem Linux tersebut.
Apa yang Bisa Dilakukan Hacker?
Jika hacker berhasil mengeksploitasi firewall, mereka bisa:
-
Mencuri username dan password pengguna VPN
-
Membuat akun administrator rahasia
-
Menanam malware permanen
-
Membuka backdoor untuk akses jarak jauh
-
Memata-matai lalu lintas jaringan
Yang paling berbahaya, serangan ini sering tidak terlihat oleh antivirus atau sistem monitoring biasa.
Dalam beberapa kasus, malware bahkan tetap bertahan meskipun firewall sudah di-update atau di-reboot.
Firewall Bukan Target Akhir
Firewall sebenarnya hanyalah pintu masuk awal.
Setelah masuk, hacker biasanya akan bergerak ke sistem lain seperti:
-
Active Directory
-
Server internal
-
VMware
-
Database perusahaan
-
Sistem cloud
Tujuan akhirnya bisa berupa:
-
Pencurian data
-
Ransomware
-
Spionase
-
Sabotase infrastruktur
Contoh Kasus Nyata
Pada awal 2026, terjadi serangan besar terhadap lebih dari 30 fasilitas energi terbarukan di Polandia.
Hacker menggunakan firewall sebagai titik masuk awal ke jaringan perusahaan.
Setelah berhasil masuk, mereka mencoba menyerang sistem kontrol industri yang mengatur peralatan fisik seperti:
-
Mesin industri
-
Sistem energi
-
Remote terminal unit
-
Human-machine interface
Untungnya serangan berhasil dihentikan sebelum terjadi kerusakan fisik besar.
Kasus ini menunjukkan bahwa serangan firewall bukan hanya masalah IT, tetapi juga bisa berdampak ke dunia nyata.
Kenapa Patch Saja Tidak Cukup?
Banyak orang berpikir solusi utama hanyalah update atau patch firewall.
Patch memang penting, tetapi tidak selalu cukup.
1. Hacker Bergerak Lebih Cepat
Begitu vendor mengumumkan celah keamanan, hacker langsung mencoba menyerang perangkat yang belum diperbarui.
Bahkan kadang hacker sudah mengetahui celah sebelum vendor mengumumkannya.
2. Patch Tidak Menghapus Malware
Jika firewall sudah terinfeksi sebelumnya, update firmware belum tentu membersihkan malware yang sudah tertanam.
Beberapa malware modern bisa bertahan setelah reboot maupun update sistem.
3. Banyak Firewall Tidak Pernah Diupdate
Masih banyak perusahaan menggunakan firewall lama karena:
-
Perangkat sudah end-of-life
-
Tidak memiliki kontrak support
-
Takut sistem terganggu saat update
-
Tidak memiliki tim IT khusus
Akibatnya ribuan firewall rentan tetap terhubung ke internet.
Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan?
1. Anggap Firewall Sebagai Target Serangan
Firewall bukan hanya alat keamanan, tetapi juga perangkat yang harus diamankan secara ketat.
2. Monitoring Secara Rutin
Pantau:
-
Perubahan konfigurasi
-
Akun baru mencurigakan
-
Aktivitas login abnormal
-
Integritas firmware
3. Update Firmware Secara Berkala
Jangan menunda update keamanan terlalu lama.
4. Gunakan Defense in Depth
Jangan hanya bergantung pada firewall saja. Tambahkan:
-
Endpoint security
-
Network monitoring
-
Segmentasi jaringan
-
Multi-factor authentication
5. Ganti Perangkat Lama
Firewall yang sudah end-of-support sebaiknya segera diganti karena tidak lagi menerima patch keamanan.
Kesimpulan
Firewall memang masih menjadi komponen penting dalam keamanan jaringan modern. Namun saat ini firewall juga telah berubah menjadi target utama hacker.
Semakin banyak fitur yang ditambahkan ke firewall membuat permukaan serangan semakin luas. Ditambah lagi, keterbatasan monitoring pada lapisan sistem internal membuat banyak serangan sulit terdeteksi.
Karena itu perusahaan tidak boleh lagi menganggap firewall sebagai “tembok yang pasti aman”. Firewall juga harus dipantau, diperiksa, dan diamankan secara aktif seperti server dan komputer lainnya.
Di era serangan siber modern, keamanan jaringan bukan hanya soal memasang firewall, tetapi juga memastikan firewall itu sendiri tidak menjadi pintu masuk bagi hacker.
eclypsium Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi eclypsium.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
